Ekspor Minyak dan Gas Riau Anjlok 37,86% pada 2015

Berita kenaikan tarif tol dalam kota Jakarta 2020
February 19, 2020

Badan Pusat Statistik telah menghitung tingkat nilai ekspor minyak bumi dan gas di Riau telah mengalami penurunan pada titik 37,86 persen pada tahun 2015 malah berbanding terbalik pada tahun 2014 sebelumnya.

Mawardi Arsyad Kepala BPS Riau mengatakan kondisi nilai ekspor migas Riau mencapai angka US$3,5 miliar pada tahun 2015. Padahal  tahun sebelumnya 2014, nilai ekspor migas Riau mencapai angka US$5,6 miliar. Faktor yang menjadi penyebabnya adalah  produksi minyak di Riau secara terus mengalami penurunan.

Padahal Riau yang telah menjadi  salah satu daerah migas terbesar di Indonesia. Dan Riau mempunyai beberapa perusahaan besar, seperti Chevron, Pertamina dan perusahaan-perusahaan  lainnya. Tetapi, nilai ekspor migas malah terjadi penurunan sebesar 37,86 persen,” penjelasan Mawardi,

Hal yang menjadi telah penyebab menurunnya tingkat nilai ekspor migas di Ria pu tidak terlepas karena faktor lainnya, yaitu terus melemahnya harga minyak dunia. Sejumlah negara tujuan ekspor migas Riau, seperti negara Tiongkok pun telah membatasi permintaan impor migas nya.

BPS pun telah memberikan  rincian tingkat nilai ekspor minyak mentah yang mengalami tingkat penurunan sebesar 35,83 persen serta hasil minyak sebesar 55,42persen. Faktor-faktor lainnya yang menjadi penyebab turunnya tingkat nilai ekspor Migas, Riau tidak memiliki sumur gas. Migas Riau memberikan kontribusi sebesar 24,5persen terhadap total seluruh  eksporMigas  Riau.Untuk nilai kontribusi migas di Riau terhadap ekspor migas nasional telah mencapai 18,86 persen.

Pada  periode yang sama,tingkat nilai ekspor non migas pun sama telah mengalami penurunan sebesar 16,84 persen secara y o y. Perhitungan yang dilakukan BPS perihal nilai dibidang ekspor non migas Riau pada tahun2015 hanya mencapai US$10,8 miliar. Padahal Tahun 2014, nilai ekspor non migas Riau mencapai US$13 miliar.

“Dan secara keseluruhan, tingkat nilai ekspor Riau pada tahun 2014 berada pada nilai  US$14 miliar, yang artinya telah terjadi penurunan sebesar 23,22% dibandingkan dari tahun sebelumnya yang mencapai US$18,7 miliar,” jelas Mawardi.

 

Dari Berbagai Sumber